affiliate_link
Mari kita simak penuturan berikut ini

A. BENJOLAN DI PERUT DAN TBC TULANG SEMBUH SETELAH LIMA MINGGU MENGONSUMSI EKSTRAK SIRIH MERAH

pasien-a.jpgBapak Soni Subroto, 34 tahun, Cimindi, Cimahi, Jawa Barat

Wajahnya pucat-pasi, tubuhnya lemah-lunglai dan berbicara pun seolah-olah tidak ada tenaga. Jangankan untuk berjalan, berdiri pun tampaknya sulit. Bapak Soni hanya bisa duduk bersandar dengan kedua tangan memegangi perutnya yang berlubang dan terus-menerus mengeluarkan nanah yang berbau tidak sedap.

Menurut penuturannya, mula-mula di perut sebelah kiri Bapak Soni muncul benjolan (bengkak) menyerupai abses. Dia merasakan adanya nyeri yang menghebat, pegal-pegal di pinggang, sulit tidur karena untuk sedikit gerak saja sakitnya luar biasa. Penderitaannya ini dijalaninya selama enam bulan lebih. Selama itu pula otomatis dia tidak bisa bekerja atau beraktivitas. Dia telah mengeluarkan banyak biaya untuk menyembuhkan penyakitnya.

Lengkap sudah penderitaan Bapak Soni, karena ternyata sakitnya terus menjalar ke perut bagian kanan di dekat tulang pinggang depan. Di tempat itu tumbuh benjolan sebesar telur angsa. Saat pecah pertama kali keluar cairan lewat lubang sebesar lubang jarum. Suatu hari, saat berdiri benjolan pecah dan munyemburlah darah berwarna hitam pekat. Hari demi hari, lubang tersebut bertambah besar hingga daging dan tulang bagian dalamnya terlihat.

Mengerikan sekali!!! Dia pun kembali berobat ke dokter, diberi antibiotik dan diinjeksi (disuntik) hingga sekitar 60 kali. Diagnosis sementara dokter tersebut menyimpulkan bahwa Bapak Soni menderita TBC tulang. Pihak dokter dan rumah sakit yang menanganinya sempat kewalahan karena penyakit pasiennya tersebut tidak kunjung membaik. Akhirnya Bapak Soni mencoba berkonsultasi dan berobat ke penulis buku “BASMI PENYAKIT DENGAN SIRIH MERAH” (Mas Bambang Sudewo).

Terapi yang penulis lakukan pertama kali adalah memberinya tiga lembar daun sirih merah segar yang sudah dicuci bersih untuk dimakan atau dikunyah, kemudian ditelan begitu saja, disusul air putih hangat. Untuk bekal pulang, penulis memberinya sembilan lembar daun sirih merah untuk pengobatan selama tiga hari. Selain itu, penulis juga memberinya satu pot kecil tanaman sirih merah agar ditanam di rumahnya.

Seminggu kemudian penulis memberinya kapsul Ekstrak Sirih Merah sebanyak 60 butir (setengah paket) untuk diminum dua kali sehari, sekali minum dua kapsul (2 x 2). Padahal saat itu, kapsul tersebut hanya untuk kalangan terbatas dan belum diperjual-belikan secara bebas. Setelah dua minggu mengonsumsi Ekstrak Sirih Merah, Bapak Soni mulai merasa badannya segar, pegal-pegalnya mulai menghilang, rasa nyerinya berangsur berkurang, mulai bisa tidur nyenyak dan nafsu makannya muncul kembali. Pada minggu ke lima, luka di perutnya mengering dan lubangnya tertutup kembali.

Bukti luar biasa ini terjadi pada diri Bapak Soni Subroto. Dua bulan kemudian, luka dan penyakitnya telah sembuh total. Ekstrak Sirih Merah telah menjadi media perantara bagi kesembuhan penyakitnya. Sementara itu, tanaman sirih merah yang penulis berikan kepadanya, tumbuh subur dan lebat daunnya. Tanamannya itu beberapa kali habis daunnya karena dipetik orang tanpa sepengetahuannya, tetapi baginya hal tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan kesembuhan yang diberikan Allah SWT kepadanya.
B. DIABETES SEMBUH DALAM TIGA MINGGU
pasien-b.jpgNy. Hj. Susiawantari, 51 tahun, Jakarta Selatan
Kesan indah dan tegar tergambar jelas di garis wajahnya. Wanita cantik berumur separuh abad ini selalu menatap hidup dengan penuh semangat. “Jangan hanya mimpi kalau Mas ingin sukses, juga jangan lupa terus menatap-Nya jika ingin kesuksesan selalu berpihak kepada Mas”, demikian filosofi Ny. Susi. “Dan jangan pula mengeluh manakala sakit menimpa. Syukuri saja dan yang penting terus memohon dan berikhtiar untuk sembuh”, sambungnya dengan senyum manis.
Kesibukan bisnisnya yang menyita waktu sering menyebabkan pola makannya tidak terkontrol. Akibatnya, sudah sejak lama Ny. Susi mempunyai keluhan kadar glukosa yang selalu naik-turun. Secara medis upaya menurunkan kadar gula dalam tubuhnya telah dilakukan. Pengobatan alternatif dengan beragam ramuan herbal juga pernah dicobanya. Namun, hasilnya yang memuaskan belum dirasakannya.Pada tanggal 16 November 2004, memesan kapsul Ekstrak Sirih Merah dan Teh Celup Sirih Merah. Secara panjang lebar dia menceritakan masalah diabetesnya. Kadar gulanya sudah 260 mg/dl. Keluhan yang sering dirasakannya adalah lemah, emosional (sensitif) dan gangguan pada kelenjar tiroid. Selain itu, juga mengalami peradangan pada tenggorok yang sulit sembuh, mata pegal dan kabur, serta nyeri di ujung-ujung jari tangannya. Jika sudah drop fisiknya, tidak mampu melakukan aktivitas apa pun.Setelah tiga minggu minum kapsul Ekstrak Sirih Merah dan Teh Herbal Sirih Merah, keluhan-keluhan tersebut berangsur sembuh. Beberapa hari kemudian dia menceritakan kesembuhannya kepada penulis. Namun, dia tetap menyediakan paket Sirih Merah untuk berjaga-jaga dan untuk obat jerawat anaknya.
C. LUKA DI KAKI AKIBAT DIABETES BERKURANG SETELAH MINUM SIRIH MERAH
pasien-c.jpgBapak Susmiarto, 35 tahun, Karangjati, Yogyakarta
Lebih kurang dua tahun sudah Bapak Susmiarto menderita kencing manis. Luka di kedua kaki, dari bawah lutut sampai mata kaki telah membusuk. Beragam cara pengobatan, baik secara medis, sinshe, alternatif maupun herbal telah dijalaninya. Bahkan dokter dari salah satu rumah sakit di Yogyakarta menyarankan agar kakinya diamputasi. Saran dokter itu membuatnya bagai disambar petir! Bagaimana tidak? Amputasi berarti kehilangan kedua kaki!Ketekunannya dalam beribadah membuatnya tidak kehilangan semangat untuk terus berikhtiar. Berobat dari dokter spesialis kulit yang satu ke dokter spesialis kulit yang lain. Namun, hasilnya tidak menggembirakan. Kerusakan pembuluh darah yang disebabkan luka di sekujur kakinya kian melebar membuat tulang kakinya terlihat jelas. Tragisnya lagi, kakinya tidak bisa digerakkan.Meskipun sakit, dia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sebagai tekhnisi komputer dan membuka reparasi barang-barang elektronik. Setiap pergi dari rumah untuk menerima panggilan reparasi, dia selalu menyiapkan 5 – 7 pasang kaos kaki untuk cadangan. Kaos kaki itu untuk membungkus luka kakinya yang setiap 30 menit mengeluarkan nanah berbau amis yang sangat menyengat.

Lukanya yang membusuk dan tidak kunjung sembuh itu menunjukkan sakit kencing manis atau diabetes mellitus. Apalagi keluhannya juga meliputi mata kabur, rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil pada malam hari, gusi berdarah dan sariawan.

Susmiarto berusaha mengunyah dan menelan tiga lembar daun sirih merah walaupun rasanya pahit. Saat pamit hendak pulang, dia membawa kapsul Ekstrak Sirih Merah agar praktis saat meminumnya.

Dua minggu kemudian dia datang lagi dengan senyum lebar. “Sudah lumayan ada perubahan, Pak”, katanya. Setelah melihat secara langsung dengan membuka kaos kakinya, memang sudah ada perubahan, luka di kakinya sudah agak mengering. Setelah seminggu mengonsumsi kapsul Ekstrak Sirih Merah, pada suatu malam rasa sakit di kedua kakinya menghebat dan nanah mengucur deras, hingga dia harus berganti kaos kaki sampai beberapa kali. Namun, pada pagi harinya rasa nyeri di kedua kaki berkurang secara drastis. Tanda-tanda kesembuhan ini sangat melegakan hatinya.

Setiap bangun pada ujung malam, dia tidak lupa mengucapkan syukur kepada sang Khaliq, karena kesembuhan yang didambakannya masih berpihak kepadanya.

D. BENJOLAN DI PAYUDARA LENYAP

pasien-d.jpgDesi, 21 tahun, Nusakambangan, Cilacap

Beberapa bulan sebelum melahirkan anak pertamanya, Desi merasakan nyeri di payudara bagian kanan, tetapi tidak dihiraukannya. Tidak pernah menduga jika beberapa bulan kemudian di tempat rasa nyeri itu akan muncul benjolan sebesar ibu jari kaki. Benjolan itu seperti daging keras dan muncul secara tiba-tiba dua bulan setelah melahirkan anak pertamanya.

Akibatnya, bayi Desi lebih banyak dirawat oleh ibunya Desi. Sang nenek memberikan susu formula sebagai pengganti ASI. Ibunya Desi sangat mengkhawatirkan kondisi Desi, karena teringat bahwa nenek Desi meninggal akibat kanker payudara.

Pada akhir Juni 2005, ibunya Desi interlokal dari Cilacap, minta waktu kepada penulis untuk bisa bertemu di Yogyakarta. Karena satu dan lain hal tidak bisa memenuhi permintaan ibunya Desi, penulis mengirimkan kapsul Ekstrak Sirih Merah via jasa paket agar diminum Desi selama dua minggu. Penulis menjanjikan dalam waktu dekat akan mampir ke Nusakambangan, Cilacap, untuk melihat kondisi Desi.

Pada akhir Juli 2005, penulis benar-benar mampir ke Nusakambangan sebelum ke Jakarta. Desi tidak diberitahu kalau penulis akan datang menemuinya. Saat penulis bertemu dengan ibunya Desi di tempat penyeberangan menuju Nusakambangan, ibunya Desi sempat menangis haru, senang dan bahagia. Dia menceritakan kondisi Desi yang positif sembuh. Benjolan di payudara sebesar ibu jari kaki telah menipis dan hanya tinggal bekas keriput memerah setengah mengelupas.

Sesampainya di Nusakambangan, penulis bertemu dengan Desi. Ternyata Desi sudah dapat menggendong bayinya. Bahkan, sudah tiga hari bisa menyusui kembali bidadari kecilnya yang cantik. Mata Desi berkaca-kaca menyambut kedatangan penulis dan mengatakan bahwa sakitnya sudah benar-benar sembuh. Dengan perasaan lega, penulis pulang dan meninggalkan Pulau Nusakambangan yang seram, tetapi tidak seseram saat Desi menghadapi hari-hari bersama benjolan di payudaranya. Kembali Yang Mahakuasa memberikan kesembuhan yang nyata kepada hamba-Nya yang tanpa henti memohon, minta ampunan dan kesembuhan.

E. MAAG AKUT HILANG DALAM EMPAT HARI

pasien-e.jpgBapak Miftahuddin, 34 tahun, Nogotirto, Yogyakarta

Keluhan gejala penyakitnya sebenarnya diawali sekitar dua tahun yang lalu akibat sering terlambat makan. Dia membuka usaha berjualan kain batik kecil-kecilan dengan barang dagangan didapatkan dari Pasar Klewer Solo.

Perjalanan pergi-pulang Yogyakarta – Solo selalu dijalani dengan mengendarai sepeda motor. Karena profesinya itu, daya tahan dan kesehatan fisik bapak dua anak ini hampir tidak mendapatkan perhatian. Hingga pada suatu hari, tepatnya pada bulan September 2004, dia jatuh sakit.

Upaya pengobatan dan penyembuhan ditempuhnya dengan cara memeriksakan diri ke dokter di rumah sakit terdekat. Perut terasa melilit, mual, panas dan tenaganya sangat lemah. Sama sekali tidak ada selera makan dan pencernaannya juga tidak bisa menerima makanan. Sementara itu, dokter rujukannya memberikan obat sama seperti pada saat sakit-sakit sebelumnya. Setelah diminum sakitnya membaik, tetapi beberapa hari kemudian kambuh lagi.

Setelah menyimak penuturannya, penulis langsung memberikan dua lembar sirih merah agar dikunyah dan ditelan. “Pahit sekali”, katanya. Pada hari-hari berikutnya, dia meminum kapsul Ekstrak Sirih Merah dengan dosis 2 x 2 kapsul per hari. Pada tiga hari pertama rasa perihnya kian menjadi, tetapi setelah hari keempat perutnya mulai terasa tidak panas lagi, nyaman dan rasa perihnya seperti tidak terasa lagi. Setelah dua minggu, keluhan sakit lambungnya sembuh total. Karenanya, penulis menyarankannya agar menghentikan meminum Ekstrak Sirih Merah untuk beberapa hari dan meminumnya jika sakitnya terasa. Sementara itu, sisa kapsul yang belum diminum diberikan kepada ibunya yang mempunyai keluhan darah tinggi. Dua minggu kemudian Bapak Miftahuddin menilpon penulis untuk mengabarkan bahwa ibunya juga sudah sehat dan darah tingginya mulai berkurang.

F. BATU GINJAL KELUAR DAN AMBEIEN MENGEMPIS

pasien-f.jpgSlamet Riyadi, 34 tahun, Tangerang

Pekerja salah satu perusahaan swasta di Tangerang ini jadwal kerjanya sering terganggu akibat sakit yang dideritanya, yaitu ambeien dan batu ginjal. Jika sedikit saja terforsir pekerjaan, terutama jika harus mengangkat beban berat, ambeiennya bisa dipastikan kambuh, terjadi pendarahan yang disertai rasa nyeri. Kondisi itu semakin bertambah jika ia salah makan. Misalnya makan makanan pedas dan berlemak. Maka, kedua sakitnya segera muncul lagi.

Pada tanggal 21 Agustus 2005, saat pameran Flona (Flora dan Fauna) 2005 di Lapangan Banteng Jakarta, ia mengunjungi Stand Herbal PJ Sekar Kedhaton (stand penulis). Sesuai dengan keluhan fisik yang dirasakannya berbulan-bulan, ia tertarik untuk mengonsumsi obat herbal berupa kapsul Ekstrak Sirih Merah dan Teh Herbal Sirih Merah. Seminggu setelah mengonsumsi, ia datang lagi ke stand penulis dengan membawa cerita yang cukup mengejutkan penulis beserta tim dan beberapa pengunjung.

Menurut pengalamannya bahwa setelah tiga hari mengonsumsi kapsul Ekstrak Sirih Merah dan Teh Herbal Sirih Merah, saat kencing pada pagi hari (hari keempat), keluar batu ginjal sebesar kacang hitam dan sebagian seperti butiran-butiran pasir. Rasa perih dan panas yang luar biasa di bagian kandung kemih dirasakan tiga jam sebelum kencing batunya keluar. Dua hari setelah batu ginjal keluar, ambeiennya mengempis dan lukanya mulai mongering, sehingga tidak terjadi pendarahan lagi.

Setiap malam sujud dan bersimpuh di hadapan-Nya sebagai rasa syukur atas kesembuhan kedua penyakitnya. Betapa tidak? Sebelum Sang Mahapengasih memberikan kemudahan dalam mengobati penyakitnya, hampir seluruh gajinya habis digunakan untuk berobat.

G. SERANGAN JANTUNG URUNG MERENGGUT NYAWA

pasien-g.jpgNy. Murjiasih, 51 tahun, Yogyakarta

Setahun setelah suami tercinta menghadap Ilahi, kondisi fisiknya semakin memburuk. Bukan hanya karena larut dalam kesedihan, tetapi juga karena beban hidup keluarganya harus ditanggung sendiri. Sementara itu, anak semata wayangnya membutuhkan biaya pendidikan yang tidak ringan. Tekanan keadaan seperti inilah yang membuatnya stress dan kehilangan semangat berjuang untuk menghadapi kehidupan yang semakin berat, sehingga daya tahannya menurun dan organ jantungnya pun terserang penyakit.

Dokter terdekat yang menjadi langganan berobat, merujuk ke salah satu rumah sakit terbesar di Yogyakarta untuk memeriksakan kondisi jantungnya. Setelah di-EEG (rekam jantung), ada indikasi kerja jantung memburuk. Setiap periksa di rumah sakit, obat-obat untuk menormalkan kerja jantung ditebus dengan biaya yang tidak murah. Hampir satu tahun sakitnya tidak menunjukkan kesembuhan.

Pada suatu hari, sekitar jam 05.30, dia diantarkan ke tempat penulis menggunakan mobil tetangganya dalam kondisi tidak sadar. Pandangannya kosong ke atas, muka pucat, badan dingin, kedua tangan dan kaki kaku, tidak bisa bicara dan bibirnya membiru seolah mendekati sekarat. Kemudian, dia dibaringkan dengan posisi miring agar jantung berada di atas. Langkah pertama yang diambil penulis adalah mengatur posisi tubuhnya agar rileks. Sekujur tubuhnya dihangatkan, telapak kaki, telapak tangan, pinggang, tengkuk dan bagian perut dibalur dengan minyak kayu putih. Simpul saraf bagian telapak kaki dirangsang aktif dengan totok jari, terutama di titik jantung dan kelima organ penting lainnya.

Setelah sadar, 30 menit kemudian, dia didudukkan dan penulis memberi 0.5 gelas (100 ml) minuman teh hijau yang dicampur dengan Teh Herbal Sirih Merah ditambah sedikit madu dalam keadaan hangat. Selang 30 menit setelah minum teh herbal tersebut, wajahnya mulai memerah, tidak pucat seperti saat datang, serta badannya mulai hangat kembali. Walaupun dengan perlahan, mulutnya sudah bisa bicara, menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya hingga sampai kena serangan jantung.

Pada hari-hari berikutnya ia rutin minum kapsul Ekstrak Sirih Merah. Sampai saat riwayatnya ditulis, ia dalam keadaan sehat dan tidak mengkhawatirkan seperti saat kritis yang penulis lihat sendiri. Ternyata melalui sirih merah ditambah tanaman herbal lain, Sang Khaliq memberikan jalan kesembuhan bagi hamba-Nya yang patuh dan taat mengabdi.
H. BENJOLAN DI PAYUDARA DAN KEPUTIHAN AKUT HILANG DALAM TUJUH MINGGU
pasien-h.jpgNy. Sudiasih, 45 tahun, Kutoarjo
Seorang ibu rumahtangga, istri Bapak Tikno, kelahiran Kutoarjo, mengikuti suaminya membuka usaha toko obat di bilangan Jl. RE Martadinata Cilacap. Sepintas secara fisik Ny. Asih, demikian dia biasa disapa, seperti tidak mempunyai keluhan penyakit. Dia selalu tampak ceria dan ramah kepada semua orang.

Pada suatu hari, setelah memeriksakan darahnya di salah satu rumah sakit di Yogyakarta, dia mampir ke rumah penulis untuk melihat-lihat tanaman obat. Dia menanyakan segala sesuatu tentang ramuan herbal yang memang terpajang di kediaman penulis. Salah satu produk yang menjadi perhatiannya adalah tanaman sirih merah dan kapsul Ekstrak Sirih Merah.

Semenjak dua minggu sebelum ketemu penulis di Yogyakarta, dia merasakan nyeri berdenyut yang semakin hari semakin bertambah sakit dan sangat menganggu aktivitas. Menurut diagnosis dokter benjolan tersebut kemungkinan besar tumor atau kanker payudara stadium II. Sementara itu, keputihan akut yang sudah lama dideritanya sejak dua tahun lalu juga mengarah ke kanker mulut rahim. Atau paling tidak terjadi infeksi serius pada mulut rahim.

Selama seminggu meminum kapsul Ekstrak Sirih Merah belum ada tanda-tanda rasa sakitnya berkurang. Namun, sudah mulai ada perubahan lain, seperti tidur malamnya lebih enak dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Sejak minggu ketiga benjolan di payudara kirinya mulai mengecil. Rasa nyeri berdenyut hilang dan hanya sekali-sekali terasa. Pada minggu ketujuh benjolan tinggal tersisa sangat kecil, pipih dan sama sekali tidak terasa sakit. Hanya, saat pikiran tegang dan tenaga terforsir, sisa-sisa sakitnya kadang-kadang timbul sesaat dan tidak mengkhawatirkan lagi.

Bersama dengan sembuhnya benjolan di payudaranya, keluhan infeksi di saluran mulut rahim pun berangsur sembuh. Namun untuk pencegahan, pada bulan-bulan berikutnya Ny. Asih tetap mengonsumsi kapsul Ekstrak Sirih Merah dengan dosis setengah dari biasanya dan cukup 2 – 3 kali seminggu, sekali minum dua kapsul.

I. TOLAK AMPUTASI, SIRIH MERAH MENJADI PILIHAN

Ny. Lestari Laras Yekti Sukobaru Hardiati Subadio, 55 tahun, Jakarta

Biasa dipanggil Bu Lis menyadari betul kalau suatu saat dirinya bakal mengidap penyakit diabetes. Karena secara garis keturunan, ibu dan neneknya menderita diabetes. Ternyata, prediksinya itu benar. Pada usianya yang ke-40, kadar gula darah Bu Lis mencapai angka di atas 500 mg/dl. Namun, dia tidak merasakan apa-apa karena masih sibuk bekerja.

Persoalan muncul ketika akan pensiun. Di payudara sebelah kiri muncul benjolan kecil. Selama dua tahun, benjolan makin membesar (terakhir sebesar telur angsa). Ketika diperiksa di laboratorium, ternyata ukurannya sudah lima kali di atas ambang batas. Akhirnya, dia pun harus menjalani operasi pengangkatan payudara. Namun, sebelum dioperasi, Bu Lis harus menurunkan dulu kadar gula darahnya.

Pasca operasi, gula darah Bu Lis agak terkontrol dengan minum Glibenclamide dan Metformin. Namun, rasa kebal di telapak kaki semakin meluas, sehingga dia sering jalan kaki tanpa memakai alas kaki. Kebiasaan ini menyebabkan luka kecil di samping telapak kaki kirinya. Lama-kelamaan, luka kecil itu membengkak dan bernanah (gangreng). Lukanya diobati dengan Nebacetin bubuk dan salep. Sementara itu, penyakit diabetesnya tetap diobati dengan obat kimia yang dikombinasikan dengan obat tradisional berupa rebusan kulit kayu jamblang dan minyak buah merah.

Akhir Mei 2005 Bu Lis masuk rumah sakit dengan gula darah di atas 450 mg/dl dan jempol kaki menghitam. Di UGD, keluarga Bu Lis diminta untuk menandatangani surat persetujuan operasi pemotongan kaki atau amputasi. Jelas, mereka menolak! Akhirnya, dia masuk ke ruang perawatan dan mendapat transfusi darah sebanyak delapan pak ditambah albumin.

Pada tanggal 1 Juni 2005, suami Bu Lis membeli sebuah majalah yang sering mengupas masalah tanaman obat. Di majalah itu ada satu artikel yang berjudul “Sirih Merah Tolak Amputasi”.

Dari artikel itu, akhirnya keluarga Bu Lis menilpon penulis dan minta dikirim kapsul Ekstrak Sirih Merah. Setelah memperoleh kapsul tersebut, dia minum 2 x 2 kapsul per hari. Sehari setelah minum kapsul itu, dia merasa kesakitan dan perbannya menjadi basah. Suami Bu Lis penasaran, mengapa keadaan istrinya jadi begitu? Dia membaca kembali artikel di majalah itu dan ternyata kejadiannya sama dengan informasi yang ditulis di majalah itu. Jadi, perbannya harus sering diganti.

Setelah dua minggu meminum kapsul Ekstrak Sirih Merah, kondisi kesehatannya mulai membaik. Perkembangannya cukup cepat hingga perawat di rumah sakit pun keheranan. Namun, dokter yang merawat Bu Lis tetap menyarankan untuk melakukan amputasi di bawah lutut. Pihak keluarga Bu Lis tetap ngotot tidak mau. Setelah Bu Lis bisa duduk, pihak keluarga minta pulang, walaupun dengan memaksa. Sebelum pulang, perawat dan dokter menganjurkan untuk mengobati lukanya dengan madu.

Sepulang dari rumah sakit, Bu Lis sempat berobat ke Gleneagles Siloam Lippo Karawaci. Dokter tulang di sana pun menganjurkan kaki Bu Lis diamputasi. Namun, pihak keluarganya minta alternatif lain. Dokter pun memberi alternatif agar Bu Lis diopname selama 21 hari dan harus diberi infus antibiotik, tetapi tidak menjamin kesembuhannya.

Sepulang dari Gleneagles Siloam, Bu Lis dan keluarganya memutuskan untuk menyingkirkan semua obat kimia yang diberikan pihak rumah sakit. Pengobatan pun diganti dengan ramuan sirih merah dan VCO (virgin coconut oil). Berkat ramuan ini luka di kaki Bu Lis sudah 95% sembuh dan kadar gula darahnya pun sudah turun hingga 135 mg/dl.

Allah SWT telah menciptakan sesuatu di dunia ini berpasangan. Ada siang, ada malam. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada sakit, ada sembuh. Begitu juga dengan penyakit. Kalau Allah SWT menciptakan suatu penyakit, pasti Allah juga menciptakan sesuatu sebagai obatnya. Karena itu, jangan merasa putus asa dan tetap optimis untuk sembuh.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s