affiliate_link

semar.jpg
kakang-semar.jpg
Syahdan setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras keringat dan meningkatkan stamina, saya pun tiba di padepokan Klampis Ireng. Letaknya jauh dari kota-kota yang sangat membisingkan telinga. Alamnya masih indah di atas perbukitan yang diapit pegunungan yang masih kelihatan hijau kebiru-biruan sangat indah dan menyejukkan mata, siapapun yang memandang. Belum sempat aku menyapa, kakang Semar dan anak-anaknya menyapaku lebih dahulu.
+Kakang Semar: “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”.
– Arjuna : “Wa ‘alaikumu salam, kakang. Aku kemari ini diutus Kakang Prabu Puntadewa dan Kakang Kresna. Yang pertama aku silaturahmi menjenguk keselamatan kakang dan kedua aku disuruh menanyakan kenapa sudah lama sekali tidak juga pergi ke keraton untuk sebo.”
+Kakang Semar: “Eeee mbegegeg ugeg ugeg sadulito. Humel humel. Subhanallah. Kulo niki wong cilik, kulo niki wong sudra. Sing mboten pantes pinanggih kalih para pangereh praja, ugi panjenengan Gus. Kiblate wis padha mingser saka pepener. Apa paedahe Semar sowan sebo deku deku ono Kraton? Jaman saniki pun kathah sing sangsoyo, ora jumbuh karo janjine. Wong-wong cilik wis podho ditinggalake para panguwoso.”
– Arjuna: “Kakang Semar, iya. Aku ke sini ini sudah siap dengan segala kemungkinan yang bakal aku terima. Apalagi aku berada di Ksatrian Madukara. Tapi aku tetap merasa bahwa Kakang Semar sebagai jelmaan Dewa Ismoyo selalu dinanti kehadiran kakang Semar di keraton. Oleh karena itu Kakang, aku ingin mencari jati diriku dengan jalan aku meninggalkan lingkungan keraton untuk sementara waktu. Dan melalui Kakang Semar, aku berharap akan mendapat bimbingan dan segala sesuatu untuk bekal masa depan diriku atau anak keturunanku.”
– Arjuna: “Kakang Semar, apa gerangan yang menyebabkan kakang tidak mau menjawab keinginan saya. Apakah marah kepada saya atau kepada Pendawa, kakang tolong jelaskan jangan diam saja sampai berhari-hari. Hati saya jadi sedih.”
— Gareng, Petruk dan Bagong (hampir bersamaan): “Iya Romo, kasihan Raden Arjuna. Sudah jauh-jauh meninggalkan ksatrian cuma dicuekin doang. Bicara dong Mo. Sudah hampir dua minggu ini Romo tidak mau bicara.”
Semar yang selalu samar-samar dan hati-hati itu memang sedang tidak mau bicara panjang lebar. Tampaknya renungannya yang dalam dengan memadukan rasa dan batinnya membuat semua kerajaan di alam jagad raya menjadi resah, berakibat banyaknya bencana yang timbul di seluruh dunia. Hari-hari, Semar selalu sibuk merawat lingkungannya bersama anak-anaknya, sampah-sampah rumahtangganya tanpa risih mereka jadikan kompos dan kotoran-kotoran kambing dan ayam mereka keringkan untuk dijadikan pupuk kandang. Tanpa sedikit pun bergantung kepada orang lain. Arjuna kemudian mengikuti dari belakang dan membantu mereka. Tiba-tiba Semar bicara dengan lembut seperti kebiasaan di alam kahyangan, walaupun wujud fisiknya pada saat itu masih Semar sebagai berikut:
+ Semar: “Kulup Harjuna, anak yang tampan dan penuh perhatian kepada sesama. Aku terdiam ini merasa bahwa aku belum bisa menjalankan amanah dari Allah SWT. Manusia di dunia fana ini cuma dua, yaitu Manusia Utama dan Manusia Angkara. Manusia Angkara banyak tipudayanya sehingga yang haram pun bisa mereka kemas sedemikian rupa sehingga tampaknya menjadi halal. Karena kepandaian Manusia Angkara dalam menggunakan dalil-dalil secara inovatif. Sehingga yang berhubungan dengan nafsu maksiat pun seolah-olah seperti nafsu muthmainah. Sedangkan nafsu-nafsu yang diridhai Allah, adalah Nafsu Lawwamah dan Nafsu Muthmainah sebagai laku sejatinya Manusia Utama semakin jarang dan langka. Demikian itulah yang aku takutkan, lebih baik aku menyatu dengan alam sebagai perwujudan ibadah karena Allah daripada ngurusin yang cuma mau menangnya sendiri, mau senangnya sendiri. Apalagi hanya punya keinginan untuk bekal masa depan dan anak keturunannya sendiri, katakanlah sampai tujuh turunan. Salah-salah bukan berkah yang didapat, melainkan bencana yang bertubi-tubi sebagai teguran Allah kepada Manusia Angkara. Biarlah Allah sendiri yang menyeleksi secara alamiah semua perimbangan di muka bumi ini, kalau kata-kata Semar sudah tidak ada yang mau pakai atau terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi pamong itu berat bebannya.”
Arjuna: “Pukulun Bathara Ismoyo, Arjuna mohon maaf dengan kejadian yang sudah dialami rakyat Nuswantara. Selalu diombang-ambingkan oleh ketidak-pastian, mungkin juga ketidak-adilan.”
+ Semar: “Mengapa harus minta maaf kepada wong cilik seperti saya. Yang diminta itu bukti dari apa-apa yang pernah dijanjikan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyatnya. Selama masih ada kesulitan pada rakyat, apapun alasannya itu artinya bahwa pemimpin itu cuma mementingkan dirinya sendiri. Sekarang kamu mau apa Arjuna?” Tantang Semar kepada Arjuna.
– Arjuna: “Saya ingin menebus kesalahan ini, tolong hantarkan saya menuju suatu tempat untuk bersemedi agar bisa mencapai tujuan akhir, Nuswantara ini menjadi negeri yang adil-makmur. Rakyat sejahtera lahir batin. Negeri semakin bisa memenuhi hajat hidup semua golongan rakyat. Tidak seperti yang terjadi seperti sekarang ini.”
+ Semar: “Kalau memang ndoro maunya begitu, kulo sa-anak-anak kulo purun ndherekaken. Hanya saja untuk mendapatkan jati dirinya kembali itu resiko banyak. Apakah sudah siap mental.” Katanya, dengan suara asli Semar.
– Arjuna: “Resikonya apa saja, Kakang? Kalau cuma angkernya hutan-belantara dan lautan luas, aku tidak takut.”
+ Semar: “Resikonya; 1. ndoro akan meninggalkan orang-orang yang kinasih, 2. kemungkinan akan kehilangan kesempatan mendapatkan pangkat lebih tinggi, berarti pendapatan ndoro tidak akan bertambah, 3. ndoro dan keluarga beserta keturunan akan  mudah dibenci orang dengan kata lain rentan kena fitnah, 4. setiap sumpah baik yang terucap maupun tidak terucap mempunyai dampak langsung, artinya kalau yang baik itu dari pihak ndoro maka rakyat akan langsung merasakan kebaikan itu, sebaliknya akan timbul kutukan dari rakyat dan itu akan dirasakan oleh pihak ndoro dan yang terakhir 5. tidak boleh sombong sekalipun sudah menjadi narendra gung binathoro.”
–  Arjuna: “Ya Kakang Semar, aku mengerti dan akan melaksanakan itu.”
+ Semar: “Kalau sudah dimengerti, syukur. Eeee …., jangan lama-lama kita berada di sini. Ayo … Gareng, Petruk dan Bagong, kita segera berangkat menghantar ndoro Janoko untuk bertapa.”
Alkisah mereka berangkat melewati hutan raya dan lautan luas, menaiki gunung menuruni gunung menuju tempat semedi yang sudah ditentukan sebelumnya. Rintangan demi rintangan, kesulitan demi kesulitan mereka hadapi dengan ikhlas. Untuk mencapai tujuan mencari jati diri itu saja sudah memakan waktu yang lama, prosesnya luar biasa panjangnya. Pengorbanannya tidak seperti yang biasa orang awam alami. Bekalnya hanya niat dan keikhlasan untuk menerima apa saja yang sudah dikaruniakan oleh Sang Khalik. Sesampainya di tempat semedi yang telah ditentukan, Semar berkata: “Anak-anakku siapkan diri kalian untuk membantu ndoro Arjuna bersemedi. Monggo ndoro Arjuna kemari, ini tempat yang bagus untuk bersemedi, fokuskan hati dan pikiran menjadi satu untuk mencapai Sang Khalik.” Arjuna menuruti kata Semar, ketika sudah fokus, kedua kaki Arjuna disapu dengan kaki Semar hingga jatuh, sakingnya fokusnya  suatu keajaiban  terjadi. Arjuna berubah menjadi danau. Membuat geger kahayangan. Kebetulan kahayangan lagi diserang Prabu Dewata Cengkar, prajurit-prajurit kahayangan kewalahan. Sumber mata air di kahayangan pun jadi kering. Subhanallah. Ada yang kita lupa bahwa semua kejadian itu, momentum-momentum yang sangat berharga, biasa kita sebut sebagai peluang.
Kita bisa simak peristiwa kawinnya Arjuna dengan Dewi Suprobo, puteri Bathara Yamadipati, yang menurunkan Wisanggeni, kesaktiannya tidak bisa tertandingi oleh siapa pun yang berbuat mungkar. Kemudian ketika perang barata yuda, perangnya antara kebaikan dan kemungkaran. Puteranya Raden Abimanyu, dari Dewi Sembodro, walaupun lukanya parah dilukiskan lukanya bak lubang-lubang keranjang, tapi berhasil menewaskan lawan-lawannya yang mengeroyoknya. Kelak menurunkan Prabu Parikesit, raja gung binathoro yang memerintah kerajaan Astina dengan arif-bijaksana sehingga rakyat bisa mencapai jaman keemasan. Akan tetapi, pada saat berburu rusa di hutan, salah satu panahnya mengenai dada sang pertapa sakti yang sedang bertapa. Sang pertapa, didampingi anaknya  berkepala binatang bernama Lembu Suro. (Maaf, tidak ada hubungannya dengan lambang PDIP atau yang serupa dengan itu). Keadaan berubah, ketika Parikesit disuruh minta maaf kepada sang pertapa atas ketidak sengajaan itu. Parikesit pribadi ternyata tidak mau maaf, sekalipun sang pertapa sudah memaafkan dan memaklumi kejadian itu. Himbauan dari staf-staf kerajaan tidak bosan-bosannya disampaikan, tidak digubris. Lembu Suro berkata dengan lantang: ” Kalau begitu Prabu Parikesit, kelak matimu dimakan naga.” Seruan ini terdengar hingga jarak ribuan mil oleh raja naga yang sedang bertapa, “saya sudah mendengar dan segera melaksanakannya, saudaraku Lembu Suro.” Sambutnya.
Mendengar itu, Prabu Parikesit justru memerintahkan membuat menara yang kuat setinggi 999 meter. Dikiranya ini merupakan solusi untuk mempertahankan kekuasan. Raja naga pun tidak kurang akal, dia menyamar menjadi seekor ulat yang masuk ke dalam sebuah apel kesukaannya. Bukan Prabu Parikesit yang makan apel itu, tetapi Prabu Parikesit yang dimakan raja naga itu.
Mudah-mudahan kita bisa memetik pelajaran ini. Para Koruptor dan penjual VLCC Pertamina punya tanggungjawab untuk mengembalikan kemakmuran dan kemaslahatan rakyat Indonesia. Anda tidak akan bisa menghindar. Ilmu yang anda pakai adalah ilmu maksiat.

2 Responses to “Obrolan Santai Dengan Kakang Semar”


  1. kritik yg bgs skali bang….
    lanjutkan karyamu…
    aku tunggu yg selanjutnya.


    1. @ Mas Agung Bima Satria: terimakasih komennya….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s