Prayer Times For Mobile PhonesMasyarakat kita sudah letih dengan penderitaan yang berkepanjangan. Keputusan yang mereka ambil untuk berobat kepada Ponari, merupakan bagian dari sebuah gambaran apa yang mereka kehendaki. Pilihan mereka sebagai bagian dari mempertahankan hidup dan kehidupan yang bermartabat, menyingkirkan semua pendapat tentang mereka. Mereka tidak lagi perduli dengan tuduhan sirik, yang penting mereka terasa sembuh, dari penyakit yang mereka derita.

Mereka juga tidak perduli, Ponari bisa kembali bersekolah atau tidak. Bahkan sudah mulai bermunculan di tempat-tempat lain, yang kita lihat semuanya dari unsur batu-batuan. Apa yang menjadi penyebabnya? Yang pertama, mereka tidak ingin repot-repot ditanya  atau diminta beberapa persyaratan yang ponari1_courtesy-of-metrotvharus mereka penuhi. Yang kedua, tidak ingin repot-repot menebus resep dan ataupun berurusan dengan birokrasi untuk mendapatkan sekantung darah, ataupun berhubungan dengan laboratorium.

Seandainya kedua batu tersebut ada di tangan saya pun. Saya rasa,  kemungkinan tidak akan mengalami ledakan pengunjung hingga ribuan per hari. Mengapa demikian? Seperti halnya sirih merah dan ramuan herbal lainnya, maka air celupan batu-batuan berkhasiat itu tentu akan saya bawa ke laboratorium untuk mengetahui kandungan apa yang ada di dalamnya sehingga bisa menyembuhkan banyak penyakit.

Kalau batu-batuan seperti milik Ponari dan orang-orang lain saja, bisa ikut membangun desanya atau wilayahnya. Karena mereka yang digolongkan  ribuan-pasien-ponari_coyrtesy-of-metro-tvsebagai kaum miskin (maaf, kita perhalus dengan istilah pra sejahtera) saja bisa berhimpun melalui kepercayaan mereka terhadap “tangan dingin” Ponari dan yang lainnya. Bisa terbayang tidak dalam kurun waktu kurang lebih 1 (satu) bulan sudah terkumpul dana sebesar satu milyar rupiah. Bagaimana pendapat kita tentang mayoritas para  pejabat di negeri ini yang dengan tegas mengatakan pegang amanah, sampai sekarang belum pernah ada yang bisa ribuan-pasien-ponari1_coyrtesy-of-metro-tvlebih dekat dengan mereka dan memberdayakan mereka secara maksimal, kecuali untuk meraih angka terbanyak dalam pesta pemilu. Sungguh ironis memang, orang miskin bisa berkumpul dan mengumpulkan dana sebesar itu. Jadi bagaimana dengan pengumpulan infak, sedekah, zakat, retribusi dan pajak. Perlu menyatukan pandangan mata fisik dan mata hati sampai mendapatkan pencerahan iman sejati.

Seandainya kaum miskin yang donor darah sukarela dan memegang kartu donor PMI sebagai entitas yang bertanggungjawab sebagai pengelola Bank Darah, itu saja mengalami kesulitan untuk mendapatkan bantuan darah bagi keluarga mereka yang sedang sakit. Bagaimana mungkin kita bisa mencegah mereka untuk tidak  “lari” ke Ponari dan lainnya. Apalagi hanya dengan kata-kata itu “sirik”. Di samping itu mau tukar kartu anggota donor yang sudah penuh dengan yang baru, kita pasti harus menunggu sampai donor berikutnya. Tidak masalah mau dicatat atau tidak?!? Suka-suka saja bagi yang berwenang untuk itu?

Apakah anda termasuk orang yang merasa berbahagia, jika melihat orang lain bisa hidup sehat dan lebih sukses dari anda? Ataukah anda memang berniat agar orang lain tidak perlu sehat dan tidak perlu maju? Tidak perlu dijawab di sini. Cukup di hati kita masing-masing, karena kelak itu yang akan bersaksi kepada Allah Sang Maha Pencipta.

Anda semakin sehat dan semakin sukses, memang itu yang kami harapkan dan dambakan selama ini