affiliate_link

BAMBANG SUDEWO: PERJALANAN HIDUPNYA, SEBAGAI PENULIS BUKU “BASMI PENYAKIT DENGAN SIRIH MERAH”

Lahir di Yogyakarta, 12 Februari 1960 dan menamatkan pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual (Diskomvis) Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 1988. Pada tahun 1997 mendirikan usaha jamu tradisional skala home industry yang diberi nama PJ Sekar Kedhaton.

mas-bambang-sudewo.jpg

PENGALAMAN EMPIRISNYA:

Pada awal tahun 2002 di sebuah desa di lereng Gunung Merapi, secara tidak sengaja penulis menemukan tanaman cantik yang merambat tak beraturan. Warna daun bagian bawahnya merah mengkilap dengan bentuk daun tidak berbeda dengan sirih hijau yang selama ini telah kita kenal. Tanamannya bersulur memanjang dan beruas.

Penulis pun mencoba memetik pucuk daunnya. Saat penulis mengunyahnya, ternyata rasa daun tanaman tersebut sangat pahit dan aromanya khas sirih. Tanaman yang panjangnya sekitar 1.5 meter ini oleh penulis dipotong sampai ujung batang bagian bawahnya sebesar tusuk sate. Selanjutnya penulis membawanya pulang dan memotongnya lagi menjadi beberapa bagian, kemudian menanamnya secara setek batang. Hasilnya dari delapan pot, hanya dua pot yang hidup, enam pot lainnya batangnya kering menghitam.

Saat itu penulis secara kebetulan terserang diabetes mellitus, kolesterol dan darah tinggi, dengan kadar gula turun-naik 275 – 350 mg/dl. Obat medis dan ramuan tradisional yang penulis konsumsi tidak juga bisa menormalkan kadar gulanya. Sementara itu, luka melepuh semakin bertambah. Luka kecil di betis yang awalnya berbentuk bintik seperti gigitan nyamuk dengan cepat melebar dan sulit kering. Rasanya perih dan gatal. Kulit bagian luar mengelupas sampai terlihat daging putih. Luka ini bertambah di bagian perut. Penasaran dengan rasa pahitnya daun sirih merah, penulis mencoba merebusnya sebanyak tiga lembar daun sirih merah dan meminum air rebusannya selama tiga hari berturut-turut. Penulis berharap daun sirih merah ini bisa menjadi sarana penyembuh aneka penyakit yang penulis derita.

Singkat kata, keluhan darah tinggi dan kolesterol yang penulis rasakan juga mulai membaik bersamaan dengan sembuhnya luka. Setelah satu minggu sembuh penulis memeriksakan kadar gula. Kadar gula penulis menunjukkan penurunan yang signifikan, yaitu di bawah 160 mg/dl. Keluhan fisik seperti lemah, mata kabur, gusi berdarah, kencing yang berlebihan, rasa haus dan sulit tidur berangsur-angsur hilang sama sekali. Pola makan penulis saat itu wajar dan tidak berlebihan, juga tidak membatasi jenis makanan tertentu.

Pada tahun-tahun berikutnya, jika timbul gejala diabetes lagi, penulis langsung mengantisipasinya dengan meminum kapsul Ekstrak Sirih Merah dan Teh Herbal Sirih Merah. Seiring dengan perjalanan waktu, untuk menambah khasiat sirih merah dalam formula ekstraknya ditambahkan beberapa bahan dari tanaman obat lain yang berfungsi menguatkan daya sembuhnya.

KEGIATAN SOSIALNYA:

Praktisi kesehatan di Klinik Herbal Center (KHC) miliknya. Ia juga aktif membuka pendidikan dan latihan (diklat) proses pembuatan jamu tradisional dan pengobatan alternatif yang diadakan di beberapa kota besar di Indonesia.

Pernah mengisi rubrik konsultasi pengobatan tradisional, spiritual dan refleksologi di salah satu surat kabar di Yogyakarta. Kini, kesibukannya semakin bertambah dengan mengurusi kebun budidaya sirih merah sambil terus mengembangkan produk unggulannya, yakni kapsul Ekstrak Sirih Merah dan Teh Herbal Sirih Merah dalam bentuk Teh Celup dan Teh Seduh untuk pasar nasional dan orientasi ekspor. Buku ini merupakan karya keduanya yang diterbitkan AgroMedia Pustaka. Buku pertamanya adalah Tanaman Obat Populer Penggempur Aneka Penyakit.